Jumat, 01 Juni 2012

Pelangi di Dunia Jurnalistik dan Media Massa Pelangi Pertama (Dunia Jurnalistik) Anda pernah melihat pelangi? Ada berapa warna? Warna apa sajakah yang Anda sukai? Warna apa yang paling Anda gandrungi? Mengapa? Bagaimana dengan orang lain? Warna apa yang mereka sukai? Kenapa Anda tidak mengikuti pendapat mereka untuk menyukai sebuah warna yang ada di pelangi? Atau jangan-jangan anda tidak menyukai sama sekali warna-warna yang tergores di pelangi? Jawaban dari serangan pertanyaan ini terserah Anda, tidak ada yang memaksa. Pasti setiap orang akan menjawab sesuai dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Dan jawaban masing-masing orang bisa sama, bisa sama sebagian ataupun berbeda sama sekali. Dengan begitu jelaslah bahwa subyektivitas merupakan anugerah Tuhan yang benar-benar indah. Dalam kajian jurnalistik, konsep pelangi di atas juga bisa digunakan untuk melihat kenyataan praktek jurnalisme di kehidupan kita. Lebih gamblangnya dapat dikatakan bahwa dalam dunia jurnalistik ada ketidakseragaman, ada ketidaktunggalan, dan tentunya ada keberagaman. Baiklah sekarang akan saya paparkan bukti tersebut dengan mengekplorasi jenis-jenis jurnalistik, merujuk pada Dedy Djamaluddin Malik: Jazz Journalism. Jurnalistik yang mengacu pada pemberitaan pada hal-hal yang sensasional, menggemparkan atau menggegerkan, seperti meramu gosip dan rumor. Adversary Journalism. Jurnalistik yang membawakan misi penentangan atau permusuhan, yakni beritanya menentang terus pemerintah atau penguasa (oposisi). Government-say-so-Journalism. Jurnalistik yang memberitakan atau meliput apa saja yang disiarkan pemerintah layaknya koran pemerintah. Checkbook Journalism. Jurnalistik yang untuk memperoleh bahan beritanya harus memberi uang pada sumber berita. Alcohol Journalism. Jurnalistik liberal yang tidak menghargai urusan pribadi seseorang atau lembaga. Crusade Journalism. Jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, misalnya demokrasi, nilai-nilai Islam atau nilai-nilai kebenaran.[13] Atau menurut Septiawan Santana K. jenis ini bisa juga disebut sebagai ”jurnalisme jihad.”[14] Menurut Dja’far H. Assegaf, jenis-jenis jurnalistik terbagi ke dalam: Elektronic Journalism (jurnalistik elektronik), yakni pengetahuan tentang berita-berita yang disiarkan melalui media massa modern seperti film, TV, radio kaset, dsb. Junket Journalism (jurnalistik foya-foya), yaitu praktik jurnalistik yang tercela, yakni wartawan yang mengadakan perjalanan jurnalistik atas biaya dan perjalanan yang berlebihan yang diongkosi oleh si pengundang. Gutter Journalism (jurnalistik got). Yaitu teknik jurnalistik yang lebih menonjolkan pemberitaan tentang seks dan kejahatan. Gossip Journalism (jurnalistik kasak-kusuk). Yaitu jurnalistik yang lebih menekankan pada berita-berita kasak-kusuk dan isu yang kebenarannya masih sangat diragukan (”koran gosip”). Development Journalism (jurnalistik pembangunan). Atau dalam istilah kita ”pers pembangunan,” yaitu jurnalistik yang mengutamakan peranan pers dalam rangka pembangunan nasional negara dan bangsanya.[15] Untuk yang terakhir ini dalam sejarah jurnalistik Indonesia, dilabelkan kepada siapa (media massa) saja yang lebih memihak kepada penguasa Orde Baru.[16] Sebenarnya ada satu lagi yang belum tercover, yaitu Investigative Journalism, di Indonesia salah satu tokoh yang mempelopori jenis jurnalisme ini adalah Mas Bondan Winarno, yang sekarang masyhur lewat acara ”wisata kuliner” di sebuah stasiun TV suasta Indonesia, yang terkenal dengan kata-katanya: ”mak nyus, pemirsa..”. Mas Bondan ikut berkontribusi dalam memopulerkan model jurnalisme investigasi ini lewat media massa Suara Pembaruan dan secara mengagumkan dapat kita lihat pada kedua karya investigasinya, Neraka di Laut Jawa yang terbit pada tahun 1980-an dan Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang terbit pada Juli 1997.[17] Jurnalistik menjadikan investigasi sebagai rohnya. Akan tetapi bagi beberapa kalangan jurnalisme investigasi bisa dimasukkan ke dalam Adversary Journalism dan Crusade Journalism.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar